di balkoni; dalam kicau burung kita berdiri melihat malaikat yang tersangkut di langit pagi dibebani doa pendosa yang dikirim semalam
Sunday, April 24, 2011
XXIV
saat tanah
dijamahi
ritmik hujan dan
percik air,
kita corakkan
intim
pada cadar katil dan
cumbu hangat
dijamahi
ritmik hujan dan
percik air,
kita corakkan
intim
pada cadar katil dan
cumbu hangat
XXIII
pada aphrodite yang telah
mati,
dan dewa dewi greek
yang ditelan masa,
kita tuliskan seribu janji
untuk sang kekasih yang belum
pasti.
mati,
dan dewa dewi greek
yang ditelan masa,
kita tuliskan seribu janji
untuk sang kekasih yang belum
pasti.
XXI
di celah
keramaian suara siang,
kita
masih temukan daerah asing
dalam diri yang tak
tercerah
--walau disuluh
keramaian suara siang,
kita
masih temukan daerah asing
dalam diri yang tak
tercerah
--walau disuluh
XX
di bawah redup tebing kota, pohon - pohon yang baru tumbuh melagukan nyanyian kematian untuk kita yang merayakan kesepian
XVIV
yang akan kamu temukan dalam naratif hidup aku hanyalah nada - nada apologi, melankolik, kata rayu dan kesepian yang paling dalam
XVIII
dia duduk memandang matahari yang bakal tenggelam, deru enjin kenderaan bersilih ganti, dan kami bercumbu dalam diam
XVII
kami sediakan kertas dan pensil, baring di kubikel melihat langit siang disetubuhi remang sore. janji, malam ini kita lukiskan syurga
XVI
jalan lengang, sekali sekala detik jam rumah sebelah, geser angin pada daun pokok, dan kau mengerang bukan kerana asyik, tapi sepi
XV
aku lihat 1000 malaikat meratapi malam dengan ratib doa yang bergentayangan di hujung sayap, untuk kita
XIII
pada dinding batu yang dicat warna kemurungan, kita menatap sebuah keindahan kota dari kaca mata seorang flaneur
Tuesday, April 5, 2011
XII
satu malam yang desolate dan pada gelita langit kita menadahi sahut doa yang tidak pasti sedang kita, sedari tuhan sudah mati
Monday, April 4, 2011
XI
dalam diam dia bela jiwa soldadu yang menunggu untuk sebuah kudeta cinta dan aku -gelandangan ini- dimatikan peluru materi
X
dalam infinitud rentas waktu aku temukan kembali pecahan prosa yang tersorok di belakangnya imejan o indah tentang kamu
VIV
jawab aku; tentang kasih terhadap kamu yang berputik dalam hati mulanya sudah lama sejak tuhan takdirkan dirinya sebagai tuhan
VIII
untuk satu malam yang panjang lalu kita lorekkan pada siling - siling kayu wajah bintang sebagai ganti cacatnya langit
VI
ada waktu yang tanpa sengaja dia renung ke dasar paling dalam pada mata aku dan yang ditemukan hanyalah imejan seekor anjing
IV
di bar itu kita melodikan pengkisahan duka yang lalu dengan erat peluk dan -korusnya- erang tanpa henti dari peti suaramu
III
waktu pagi ketika aspal masih basah aku menatap sebuah kesedihan dalam nyenyak seorang kekasih di ribaan
I
di bawah silau siang dia redupkan aku dengan bayangan momen silam yang terkandung di dalamnya sajak - sajak yang sudah mati
Subscribe to:
Posts (Atom)